UPP UAD IMM Cabang Djazman Al-Kindi Menjadi Andalan
Ahad lalu, 20 Maret 2011, 09:00 WIB acara pelantikan Unsur Pembantu Pimpinan (UPP) IMM Cabang Djazman Al-Kindi (Dzaki) dimulai, acara tersebut sempat tertunda beberapa menit dari jadwal yang telah di tentukan yang semula mulai pada pukul 08:00 WIB. Pembukaan dengan “Basmallah” dilanjutkan kalam Illahi itulah sedikit tradisi yang biasanya dilakukan oleh kader-kader IMM. Pembacaan surat keputusan oleh sekertaris cabang sendiri, IMMawan Farid Zuhdi (prodi farmasi 2007). Sedangakan pembacaan ikrar dipimpin langsung oleh ketua cabang Djazman Al-Kindi, Erizal bin Irfan ( prodi tafsir hadis 2007) diikuti para anggota UPP terpilih, Korkom ( koordinator komisariat) UAD dan Nyi Walidah Institute ( NWI). Acara pelantikan ini turut dihadiri beberapa para undangan selain komisariat yang berada di UAD-PMY, baik di dalam KBM ( Keluarga Besar Mahasiswa) UAD (DPM, BEM, UKM, LIM) maupun dari Wakil Rektor III UAD (Drs. H. Muchlas, M.T), MPM ( Nugroho N.S, S.IP), DPD dan Cabang A.R Fachrudin (UMY), hadir pula demisioner NWI. Suasana khidmat nan bersahaja, karena para tamu undangan mengikuti dengan seksama. Ketika ikrar akan di bacakan, para tamu undangan di minta untuk berdiri, setelah itu mengucapkan selamat kepada para anggota UPP UAD periode 2010-2011. Walaupun dalam struktur kepengurusan UPP Dzaki pada periode ini sedikit inovatif dari pada periode-periode sebelumnya, mudah-mudahan betul-betul dapat bermanfaat bagi kemaslahatan komisariat-komisariat IMM UAD, yang mana insan-insan yang terpilih tersebut sesuai harapan bersama
Acara selanjutnya dilanjutkan sambutan-sambutan. Yang pertama oleh Ketua Korkom, yaitu IMMawan Purnomo Aji Mahmud, dia mengatakan bahwa saling kerja sama dan tetap membangun komunikasi yang intens. Sehingga apa yang telah di perjuangkan oleh pendiri Muhammadiyah (alm K.H.A. Dahlan) itu harus betul-betul di ketahui oleh para kader IMM dan di refleksikan dengan perbuatan amaliah yang ilmiah (dan sebaliknya). Seperti dalam Tipologi IMM sendiri, demi mewujudkan, meluruskan dan menegakkannya lagi dalam perjuangan Beliau, yang membawa islam yang sebenar-benarnya. Muhammadiyah sendiri merupakan gerakan islam pembaharuan Amar Ma’ruf Nahi Munkar, jadi diharapkan para kader-kader IMM nantinya dapat menjadi penerus bapak-bapak yang berada di pimpinan Muhammadiyah, dan untuk IMMawatinya di Aisyiyah. Kemudian mahasiswa prodi pendidikan matematika 2007 ini juga meminta kepada Erizal bin Irfan (dkk, pimpinan cabang Dzaki ) untuk selalu membimbing dan memantau mereka (korkom dan komisariat) agar para kader tidak merasa di telantarkan. Sebagai demisioner Pimpinan Komisariat MIPA/JP MIPA periode 2009-2010, sebagai kalimat penutupnya Ia juga mengingatkan bagi dirinya sendiri khususnya, dan bagi IMMawan dan IMMawati pada umumnya mengenai pesan “sang pencerah”, “…jangan mencari kehidupan di Muhammadiyah, tapi berikanlah hidupmu pada Muhammadiyah…”. Sambutan kedua oleh ketua NWI, IMMawan Rhama Efendy. Yang mana awal kata sambutannya turut menyontak dan membuat para tamu hadirin terpana diam terkejut, tak terkecuali pak Muchlas. “salam revolusi!!!.......mengapa peran wanita dalam kehidupan sosial sering di abaikan dan tak dianggap (remeh) oleh sebagian orang? ……Banyak faktor yang mempengaruhi hal tersebut, untuk itu NWI itu ada, mudah-mudahan dapat memperjuangkan pemberdayaan kaum wanita berbasis gender yang terlewatkan…..Kita (IMMawan) juga tak kalah cantik….”, ujar mahasiswa yang juga disibukkan dengan penulisan skripsi dari prodi farmasi itu selain kini menjabat wakil presiden mahasiswa UAD dalam kabinet Lentera , sontak para hadirin riuh tertawa, bahkan ada yang terkagum-kagum dan bingung. Ia juga menyanjungi dan menghargai atas keberadaannya IMMawati dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, yang mana dengan keberadaan mereka begitu berarti didalam menggerakkan pergerakkan revolusi, dan sering di katakan sebagai “indahnya bunga-bunga revolusi”. Keberadaan IMMawati dalam ikatan memang tak bisa di pungiri begitu saja, dan tak bisa terlewatkan begitu percuma, semoga dengan adanya salah satu faktor ini dapat me”masiv”kan ikatan ini.
Dari Warek ( wakil rektor) III sendiri turut bersyukur bangga dan menaruh besar harapan kepada UPP (korkom_red) yang baru usai dilantik ini, untuk dapat lebih erat menjalin komunikasi dengan pihak rektorat dan komisariat. Dengan harapannya IMMawan dan IMMawati dapat menjadi penerus para pimpinan-pimpinan Muhammadiyah dan Asyiyah. Beliau sempat juga berterimakasih atas sumbangan tenaga, fikiran, yang selama ini di laksanakan dengan penuh ke ikhlasan semoga dapat menjadi amal ibadah, dan memuji sedikit banyak mengenai perjuangan Korkom periode yang lalu (Erizal bin Irfan, dkk) terutama dalam membina hubungan tingkat Universitas, beliau juga menambahkan sekaligus menyampaikan pesan dari Pimpinan Hizbul Wathan (HW), agar HW dapat di adakan dan digerakkan oleh Korkom ke dalam Universitas Ahmad Dahlan ini, supaya generasi muda yang intelek turut memperjuangkan HW yang mana itu merupakan langkah K.H.A Dahlan (alm) mengenalkan gerakan kepanduan dalam Muhammadiyah. Mudah-mudahan itu dapat dan ada yang memperjuangkannya di UAD, sebagai ortom. “….jadi, para kader itu tak perlu khawatir soal pendanaan mahasiswa…..IMM itu merupakan anak kandung kami, jadi tak mungkinlah ayah melupakan dan meninggalkan anak kandungnya…ya sedapat mungkin akan kami usahakan ketimbang ormawa-ormawa KBM….”, itu merupakan pernyataan beliau terhadap persoalan pendanaan kegiatan kemahasiswaan yang akan diusahakan untuk para kader. Yang mana persoalan dana, biasanya menjadi momok tersendiri dikalanagan mahasiswa dalam kegiatan yang akan diadakan. Saya juga mengharapkan kader-kader IMM dapat bersaing mengikuti semboyannya (…berlomba-lomba dalam kebaikan…), baik dalam hal ilmiah, keagamaan, maupun kemasyarakatan dengan penuh semangat dan ikhlas tentunya.
Sambutan berikutnya di sampaikan oleh pimpinan cabang Djazman Al-kindi, Erizal bin Irfan. Yang mana isi sambutannya tentang rencana pelebaran wilayah cabang Djazman Al-kindi, yakni penambahan komisariat selain Universitas Ahmad Dahlan dan Politeknik Muhammadiyah Yogyakarta. Universitas-universitas lain yang rencananya akan bergabung Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dalam cakupan cabang Djazman Al-kindi, yakni daerah sekitar Kota Yogyakarta saja. Antara lain Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY), Universitas Sarajanawiyata Tamansiswa (UST), dan lain-lain. Dengan harpannya IMM itu dapat menjadi gerakan mahasiswa yang berbasis Kemuhammadiyahan, Amar Ma’ruf Nahi Mungkar, amal yang ilmiah, ilmiah beramal.
Seperti yang di katakana oleh MC, “………acara sakral pelantikan ini, hadirin di persilahkan berdiri….” Ujar MC. “….jangan sekali-kali meninggalkan sejarah….”, ujar mas Nugie, sapaan akrab Nugroho N.S, S.IP mengingatkan. Apa yang Ia saksikan sekarang tak seperti Ia mengikuti acara pelantikan sebelumnya yang pernah ia saksikan pada era-nya dulu. Karena yang menggunakan Jas Merah (dalam arti sebenarnya) hanya Pimpinan Cabang Dzaki, yang lain tidak (termasuk yang dilantik), semua mengenakan baju batik. Itu menimbulkan tanda tanya pada dirinya, terhadap ucapan yang di keluarkan oleh MC tadi, karena tak paham dari kata “sakral” yang dimaksudkan tadi. Namun bukan itu yang menjadi tema pokok tau’syiah yang akan Ia sampaikan. Tau’syiah yang Ia sampaikan mengikuti ala Buya Syafii Ma’rif yang menggunakan teks book (selebaran_red), yang mana tujuannya adalah setelah mendengar secara lisan dari apa yang Ia utarakan dapat diulangi, di baca lagi dengan sendiri agar maksud dan tujuan betul-betul dipahami. Dengan semangat mudanya, berapi-api, bak seorang orator, mas Nugie menyampaikan betul-betul membuat audien terdiam 1000 bahasa. Perlu diketahui juga, mas Nugie merupakan kader termuda dalam Majelis Perkaderan Muhammadiyah, yang kini Ia melanjutkan studi di UMY jurusan Hubungan Internasional (Diplomat_red), jadi wajar bila Ia menyampaikan seperti itu. Sebenarnya bukan Ia yang menyampaikan tau’syiah pada acara pelantikan ini, namun ada ketua MPM-lah (pimpinan) yang lebih pantas, tetapi semuanya sedang ada keperluan yang mendesak, maka Ia lah yang mengisi tau’syiah pelantikan UPP Dzaki. Ia menganggap sebagai kader termuda yang patuh pada pimpinan dalam kepengurusan MPM, dan demi kader-kader muda lainnya maka Ia yang membakar glora muda di dalam ruang auditorium kampus 3 UAD kala pagi itu. Supaya kader IMM tetap bersemangat dalam berorganisasi Muhammadiyah, dan terus mengembangkan potensi yang di miliki. Apa lagi di era modernisasi seperti sekarang ini teknologi semakin mutakhir, kita harus bisa membuka wawasan berupa membangun jaringan seluas-luasnya selain di Muhammadiyah. “…lihat saja orang sepuh seperti Buya Safii, beliau yang cukup berumur saja masih terus menambah jejaring sosial dengan pihak luar…” ujarnya. Bagaimana dengan IMMawan dan IMMawati, apakah kita sudah cukup luas dan siap membangun jaringan sosial, baik terhadap pihak dalam maupun pihak luar??? Buktikan kita sanggup!(benny dwi a,imm komsat fkm uad).
